Syarat Mempelajari Ilmu Hikmah | Pusat Belajar Ilmu Hikmah - IlmuHikmah.Net
Ilmu Hikmah

Syarat Mempelajari Ilmu Hikmah

Sebagai ilmu spiritual yang suci, Ilmu Hikmah memiliki syarat-syarat tertentu. Ilmu Hikmah bukan ilmu sembarangan dan tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang berniat jahat. Oleh karena itu, sebelum Anda mempelajari Ilmu Hikmah, harap perhatikan tujuh syarat mempelajari Ilmu Hikmah yang kami jelaskan di bawah ini.

1. Beragama Islam

Karena Ilmu Hikmah adalah ilmu spiritual yang berkembang di kalangan umat Islam, maka amalan-amalan Ilmu Hikmah hanya cocok untuk mereka yang beragama Islam. Seseorang disebut beragama Islam adalah orang yang meyakini rukun iman dan rukun Islam. Rukun iman termasuk adalah Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat-malaikat Allah, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada rasul-rasul Allah, Iman kepada hari kiamat dan Iman kepada Qada dan Qadar. Sedangkan rukun Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh keyakinan, menjalankan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Apakah itu artinya orang yang beragama selain Islam tidak bisa belajar ilmu spiritual dari kami? Tentu saja masih bisa. Karena kami (Asosiasi Parapsikologi Nusantara) memiliki banyak program kursus ilmu gaib, ilmu spiritual atau ilmu supranatural yang universal dan tidak terikat agama. Anda bisa kunjungi situs www.parapsikologi.com untuk menemukan program kursus yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Anda.

Ilmu Hikmah hanyalah salah satu jalan spiritual, sedangkan ilmu spiritual atau ilmu batin itu banyak jenisnya. Pada setiap agama atau setiap kebudayaan selalu ada ajaran spiritual. Meskipun bentuk dari ajaran spiritual bisa berbeda-beda (sesuai pengaruh agama dan kebudayaan), tapi inti ajarannya selalu sama, yaitu soal kebijaksanaan dan cara menyelesaikan problematika kehidupan dengan cara-cara spiritual. Khusus di situs www.ilmuhikmah.com ini kami hanya membahas ajaran Ilmu Hikmah yang cocok untuk pemeluk agama Islam.

2. Mendapat Restu Dari Guru

Anda mungkin bisa belajar Ilmu Hikmah dari berbagai buku yang beredar luas di toko-toko buku, atau dari artikel-artikel di internet yang tidak jelas siapa pembuatnya. Namun perlu diingat, bahwa belajar Ilmu Hikmah tidak sama seperti belajar ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Dalam Ilmu Hikmah diperlukan keberkahan agar amalan ilmu bermanfaat. Dan keberkahan itu bisa Anda dapatkan dari bimbingan seorang guru yang berpengalaman.

Karenanya, dikenal istilah ijazah atau baiat dalam tradisi pembelajaran Ilmu Hikmah. Tujuannya adalah sebagai peresmian bahwa seorang murid mendapat restu dari seorang guru untuk mulai mengamalkan suatu Ilmu Hikmah. Proses ijazah ini bisa macam-macam caranya sesuai dengan kebijaksanaan guru masing-masing. Ijazah atau proses penurunan ilmu bisa dilakukan secara langsung maupun dari jarak jauh.

Proses pengijazahan itu penting sebab di situlah terletak keberkahan dari Ilmu Hikmah yang hendak kita amalkan. Sudah ada banyak contoh nyata, dimana orang yang belajar Ilmu Hikmah secara mandiri tanpa bimbingan guru, yang didapatkannya adalah kesia-siaan. Bahkan malah ada yang tersesat mengikuti ajaran yang tidak benar.

3. Bersedia Mengikuti Ajaran Guru

Sewaktu Anda memutuskan untuk belajar Ilmu Hikmah kepada seorang guru, maka ikutilah ajaran guru itu dengan penuh tawaduk. Dengan catatan, selama ajaran guru itu tidak bertentangan dengan syariat agama. Dalam belajar Ilmu Hikmah, ada ungkapan “samikna wa atokna” yang artinya kami mendengarkan dan kemudian kami menaati. Tidak wajar apabila dalam belajar Ilmu Hikmah ada perdebatan atau adu argumentasi.

Pahamilah bahwa Ilmu Hikmah adalah ilmu batin, berbeda dengan ilmu sains yang sesuai logika. Oleh karena itu, ajaran Ilmu Hikmah kadang sulit dipikir secara logis. Dalam pembelajaran Ilmu Hikmah, dinilai tidak sopan apabila seorang murid bertanya macam-macam mengenai ajaran yang diberikan. Sikap murid Ilmu Hikmah yang baik adalah melakukan dengan sepenuh hati ajaran-ajaran guru dengan istiqomah.

4. Istiqomah

Istiqomah adalah melakukan suatu amalan secara terus-menerus dengan disertai keimanan dan kesungguhan terhadap apa yang diamalkannya. Beberapa ulama ahli hikmah berpendapat bahwa "istiqomah lebih baik dari 1000 karomah". Hal ini karena Istiqomah adalah pohonnya, sedangkan karomah hanyalah salah satu buah daripada istiqomah.

Mengamalkan satu Ilmu Hikmah dengan istiqomah jauh lebih baik daripada memiliki banyak Ilmu Hikmah tapi tidak istiqomah, atau bahkan tidak pernah diamalkan sama sekali. Jangan kagum dengan orang yang seolah-olah mengerti banyak Ilmu Hikmah, namun dalam kesehariannya dia jarang duduk berdzikir untuk mengamalkan amalan Ilmu Hikmahnya. Namun kagumlah dengan orang yang tidak banyak bicara, namun punya amalan yang istiqomah walaupun hanya sedikit.

Tidak ada Ilmu Hikmah yang lebih hebat dari Ilmu Hikmah yang lainnya, bila tidak diamalkan dengan istiqomah. Jangan terlena untuk “mengoleksi” Ilmu Hikmah, karena Ilmu Hikmah bukan sekedar pengetahuan. Ilmu Hikmah adalah pengetahuan yang disertai amal perbuatan nyata. Dan amal yang terbaik adalah amal yang istiqomah.

Jangan pula mudah tergoda untuk berganti-ganti amalan hanya karena Anda merasa suatu amalan Ilmu Hikmah tidak bermanfaat bagi Anda. Karena kadang, Allah menguji kesabaran Anda sebelum memberikan keberkahan yang besar. Insya Allah, apabila Anda bersedia istiqomah dalam mengamalkan Ilmu Hikmah yang Anda tekuni, akan banyak manfaat yang bisa Anda peroleh.

5. Menjaga Diri Dari Makanan yang Haram

Apabila seseorang ingin memiliki kekuatan batin yang bersumber dari energi ilahiah (Ilmu Hikmah), maka ia harus memperhatikan makanannya. Karena makanan yang haram akan mengotori hati nurani. Makanan yang haram akan membentuk jiwa yang kasar dan tidak religius. Makanan yang haram disini bukan hanya dilihat dari jenisnya saja, semisal babi, miras, bangkai dan sebagainya, tapi juga dari cara untuk mendapatkan makanan tersebut.

Efek dari makanan yang haram ini menyebabkan jiwa sulit menyatu dengan hal-hal yang positif. Contohnya dibuat zikir tidak khusyu’, berdo'a tidak sungguh-sungguh, sulit istiqomah dan hati tidak tawakal kepada Allah.

Daging yang tumbuh dari makanan yang haram selalu menuntut untuk diberi makanan yang haram pula. Seseorang yang sudah terjebak dalam lingkaran ini sulit untuk melepaskannya, sehingga secara tidak langsung menjadikan hijab atau penghalang dalam memperoleh getaran atau cahaya ilahiah.

Disebutkan bahwa setitik makanan yang haram memberikan efek terhadap kejernihan hati, ibarat setitik tinta yang jatuh diatas kertas putih. Semakin banyak unsur makanan haram yang masuk, ibarat kertas putih yang banyak ternoda tinta, sedikit demi sedikit akan hitamlah semuanya.

Hati yang gelap menutupi hati nurani, menyebabkan ketidakpekaan terhadap nilai-nilai kehidupan yang mulia. Seperti kaca yang kotor oleh debu, sulitlah cahaya menembusnya. Tapi dengan zikir dan menjaga makanan haram, hati menjadi bersih bercahaya. Begitu halnya jika Anda ingin dijaga oleh para malaikat Allah, jangan kotori diri Anda dengan darah dan daging yang tumbuh dari makanan haram. Inilah mengapa para ahli Ilmu batin sering menyarankan seorang calon siswa agar memulai suatu pelajaran dengan laku batin seperti puasa.

Konon, puasa itu bertujuan menyucikan darah dan daging yang timbul dari makanan yang haram. Dengan kondisi badan yang bersih, diharapkan ilmu batin lebih mampu bersenyawa dengan jiwa dan raga. Bahkan ada suatu keyakinan bahwa puasa tidak terkait dengan suatu ilmu. Fungsi puasa pada dasarnya adalah untuk mempersiapkan tubuh agar bersih dan siap menerima ilmu yang sedang dijalani.

6. Menghindari Dosa Besar

Menghindari dosa-dosa besar merupakan salah satu upaya membersihkan rohani. Di mana secara umum kemudian dikenal pantangan Ma-Lima yaitu : Main, Madon, Minum, Maling dan Madat, yang artinya berjudi, zina, mabuk-mabukkan, mencuri dan menyalahgunakan narkotika.

Walau lima hal ini belum mencakup keseluruhan dosa besar, tetapi kelimanya diyakini sebagai biang dari segala dosa. Judi, misalnya. Seseorang yang sudah terlilit judi andaikan ia seorang pemimpin maka cenderung korup dan hanya ada sedikit saja kejujuran yang masih tersisa padanya.

Demikian halnya dengan perbuatan seperti zina, mabuk-mabukkan, mencuri dan menyalahgunakan narkotika. Semuanya diyakini sebagai hal yang mampu menghancurkan kehidupan manusia. Karena itu orang yang ingin memiliki kekuatan batin hendaknya mampu menjaga diri dari lima perkara ini.

Seseorang yang sudah "kecanduan" satu diantara lima perkara ini bukan hanya rendah dipandang Allah, di pandangan manusia biasa pun ikut rendah. Nurani yang kotor menyebabkan do'a-do'a tidak terkabul.

Beberapa langkah apabila dilakukan secara konsekuen, Insya Allah menjadikan manusia "sakti" dunia akhirat. Getaran batinnya kuat, ibarat getaran pada lampu yang selalu meningkat getarannya sementara kaca yang melingkari lampu itu pun selalu dibersihkan melalui laku-laku yang positif.

Hikmah suatu amalan (bacaan) biasanya terkait dengan perilaku pengamalnya. Dalam haditsnya Turmudzi meriwayatkan, "Seseorang yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan memurnikan niat, pasti dibukakan untuknya pintu-pintu langit, sampai ucapannya itu dibawa ke Arsy selagi dosa-dosa besar dijauhi".

Hadits ini dapat ditafsirkan bahwa suatu amalan harus diimbangi dengan pengamalan. Adanya keselarasan antara ucapan mulut dengan tindakan menyebabkan orang itu mencapai hakikat "Kekuatan-Kesaktian."

7. Ikhlas dan Tidak Tamak

Seseorang yang berhati ikhlas dan tidak rakus dengan dunia lebih memiliki kepekaan dalam menyerap pelajaran Ilmu Hikmah. Logikanya, orang yang berhati ikhlas lebih mudah memusatkan konsentrasinya pada satu titik tujuan, yaitu persoalan yang ia hadapi.

Disebutkan bahwa orang yang berhati ikhlas diperkenankan Allah SWT untuk berbicara, melihat, berpikir dan mendengar bersama dengan lidah, mata, hati dan telinga Allah (baca hadits Thabrani).

Orang yang memiliki sifat ikhlas dan tidak tamak akan sangat disukai manusia. Rasulullah SAW pernah didatangi seorang sahabat yang ingin meminta resep agar disukai Allah SWT dan disukai sesama manusia. Rasulullah bersabda, "Jangan rakus dengan Harta Dunia, tentu Allah akan menyenangimu, dan jangan tamak dengan hak orang lain, tentu banyak orang yang menyenangimu."

Hadis tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan para spiritualis yang memiliki power pertama kali disebabkan karena karismanya, jika seseorang itu banyak disukai sesamanya maka apa yang diucapkan pun akan dipercaya. Sebaliknya walau orang itu berilmu tinggi tetapi kalau tidak disukai sesamanya maka apa yang diucapkannya pun tidak akan ada yang menggubris.

CATATAN: Artikel ini ditulis oleh tim IlmuHikmah.Net yang tergabung dalam Asosiasi Parapsikologi Nusantara. Harap tidak copy-paste tulisan ini ke blog atau situs lain tanpa izin dari pihak IlmuHikmah.Net. Terima kasih atas kesadaran Anda untuk menghargai karya tulis orang lain. Semoga hidup Anda lebih berkah karena telah berbuat benar.